Merebut Kebebasan dalam Genggaman Tangan

Aktivitas sehari-hari kita tak bisa lepas dengan Smartphone yang pada era teknologi kini telah menjadi sebuah kebutuhan. Aku menggunakan Android sejak tahun 2011-2012, dari situ pula aku mulai tertarik dan memahami Android lebih dalam dengan bergabung di forum-forum internet.

Smartphone, apapun sistem operasinya telah memudahkan kehidupan kita sehari-hari. Hal ini tak perlu diragukan lagi, memang seperti itulah gunanya teknologi, memudahkan manusia. Dibalik kemudahan yang selama ini kita rasakan, terdapat sisi buruk yang aku rasa sangat minim yang peduli terhadap hal ini yaitu, privasi. Secara perlahan kemudahan menggunakan internet dengan Smartphone membunuh privasi kita.

Android merupakan sistem operasi terbuka, bisa digunakan oleh siapa pun dan bisa dibuat sesuai dengan kehendak yang membuatnya. Oleh karena itu, Smartphone Samsung, LG, Xiaomi dan lainnya memiliki tampilan berbeda walau tetap berbasis Android. Sumber dasar untuk membuat tampilan Android yang digunakan banyak perusahaan adalah AOSP (Android Open Source Project). AOSP ini ibarat kayu, bisa dibuat menjadi kursi, meja dan lemari. Kursi, meja dan lemari ini ibarat Samsung, LG dan Xiaomi yang mengolah kayu-kayu yang ditebang dari hutan.

Kita menggunakan Smartphone hampir setiap saat, termasuk disaat menunggu lampu merah berubah menjadi hijau saat di persimpangan jalan. Kita bosan menunggu, belum lagi rasa muak melihat iklan berlebihan, termasuk iklan wajah orang-orang yang tak kita kenal memaksa kita untuk memilihnya. Lalu kita mengambil Smartphone di saku celana, dan membuka aplikasi sosial media.

Namun sialnya kita seperti tidak peduli saat ruang privasi kita dihajar oleh iklan-iklan seperti di pinggir jalan. Bagi aku, Smartphone adalah privasi yang tak boleh diganggu gugat, aku tak mau ada yang mendikte apa yang harus aku lihat atau apa yang selanjutnya harus aku tonton.

Iklan-iklan yang muncul di layar smartphone kita tidak muncul dengan sendirinya, ia muncul dari hal-hal yang sesuai dengan ketertarikan kita. Misalnya, saat kita browsing dengan browser yang ada pada Smartphone kita (biasanya Chrome) ingin membeli celana atau baju dari suatu brand, lalu kita membuka Instagram, tiba-tiba muncul iklan oleh brand tersebut atau brand sejenisnya yang menjual barang yang sama. Itu bukanlah suatu hal yang kebetulan, namun itu hasil dari data history browser kita yang diambil oleh Google dan kemudian dipakai Instagram untuk menampilkan iklan bayaran dari suatu brand. Ini merupakan contoh kecil yang sering muncul. Jika seperti ini, bukankah kita tak lagi memiliki privasi pada Smartphone kita sendiri?

Minimnya kesadaran terhadap pentingnya privasi internet di Indonesia membuat koorporasi besar berani menggelontorkan investasi (seperti ojek online yang kini sedang maraknya) untuk meraup data para penggunanya.

Dari sekian banyak sistem operasi yang ada, dua diantaranya merupakan yang paling populer di Indonesia. Pengguna Android merupakan mayoritas di Indonesia, 92,81% Smartphone di Indonesia menggunakan sistem operasi Android, sedangkan iOS hanya 5,35%. Selain minimnya kesadaran terhadap privasi internet, minimnya pembaruan “security patches” yang diberikan oleh perusahan Smartphone memperburuk keamanan data. Masih banyak Smartphone yang sistem operasinya tidak diperbarui dan masih menggunakan Android Oreo, Nougat, bahkan Marshmallow.

Jumlah Pengguna Android Indonesia

Data telah menjadi komoditas utama di era teknologi, data yang ada pada Smartphone kita memuat segala bentuk aktivitas yang kita jalani tiap harinya. Di mana kita berada, apa yang kita baca, gambar apa yang kita lihat, apa yang kita tonton, dan apa yang kita ketik.

Lihat saja salah satu aplikasi ojek online ini, izin untuk menjalankan aplikasinya mencakup semua hal.

Aplikasi ini membaca kontak kita, membaca identitas dan status Smartphone, membaca SD card, melihat sambungan jaringan internet, melihat wifi, menerima data internet kita, bahkan mengambil data aplikasi lainnya yang berjalan di Smartphone kita.

Jika kalian sudah merasa aman sendirian di kamar, lalu memutuskan untuk menonton bokep karena merasa tidak ada orang lain selain kalian, maka kalian salah, aplikasi ojek online ini bisa membaca dan tahu siapa pornstar yang ada di dalam video bokep itu. Aplikasi ojek online hanya satu contoh dari sekian banyak aplikasi lainnya, seperti aplikasi-aplikasi sosial media.

Secara pribadi, aku sangat tidak percaya dengan korporasi mana pun apalagi korporasi yang memegang semua data pribadi. Bukan tak sering korporasi pengumpul data menjual data penggunanya pada pihak ketiga, seperti yang dilakukan oleh Facebook yang menjual data penggunanya sebanyak lebih dari  70 Juta akun untuk kepentingan kampanye yang dilakukan Donald Trump.

Bulan lalu aku mencoba eksperimen menggunakan Smartphone tanpa satupun aplikasi dari Google, Facebook, dan korporasi besar pengumpul data lainnya. Eksperimen ini berjalan selama dua minggu.

Aku menggunakan Smartphone dari Xiaomi, karena murah. Tapi sistem operasi buatan Xiaomi sangatlah sampah dan buruk. Iklan di mana-mana, Xiaomi berani menjual murah produknya karena mereka mengambil untung lebih dengan cara bekerja sama dengan perusahaan yang beriklan di Smartphone-nya. Tentu saja Xiaomi tidak peduli dengan kenyamanan penggunanya, karena profit lebih penting dari keluh kesah konsumen.

Di dalam Smartphone Xiaomi, dan juga brand lainnya seperti Samsung atau LG terdapat banyak aplikasi bawaan yang tidak bisa dihapus oleh pengguna. Aplikasi-aplikasi dari Google seperti, Google Play Film, Youtube, Playbook, Play Music, Maps, Voice Search, Google Assitant. Aplikasi tersebut yang tidak bisa dihapus dan tidak diinginkan oleh pemilik Smartphone disebut dengan nama “bloatware”. Aplikasi ini terpasang di dalam sistem, tak bisa dihapus hanya bisa dinonaktifkan namun tetap memakan ruang penyimpanan Smartphone kita.

Hal yang pertama aku lakukan adalah membuka bootloader Xiaomi, kemudian memasang Custom Recovery yang dibuat oleh kawan-kawan di XDA. Setelah itu aku memasang Custom ROM, Custom ROM merupakan  hasil dari AOSP seperti AOSP yang juga digunakan oleh korporasi pembuat Smartphone lainnya.

Di dalam Custom ROM tidak terdapat Gapps, atau aplikasi bloatware dari Google yang sebelumnya sudah aku sebutkan di atas. Tapi untuk menjalankan aplikasi, Android membutuhkan Google Play Services, untungnya para pengembang software independen di XDA berhasil menciptakan MicroG yang menjadi pengganti Google Play Services agar semua aplikasi berjalan lancar dan normal.

Terdapat banyak aplikasi FOSS (Free Open Source Software), yang mampu menggantikan peran aplikasi tertutup buatan korporasi dengan keamanan privasi internet yang jauh lebih baik. Misalnya untuk browsing aku menggunakan Kiwi Browser dan DuckDuckGo, untuk menggantikan Youtube aku menggunakan NewPipe, untuk membuka Instagram aku menggunakan Hermit (tanpa iklan sama sekali), bahkan aku tidak menggunakan Google Playstore, menggantinya dengan F-Droid.

Aku berhasil dan merasa baik-baik saja menjalankan hidup tanpa korporasi besar pengumpul data, tapi tidak mudah. Walaupun aku mampu hidup tanpa aplikasi-aplikasi pencuri data pribadi, orang-orang di sekelilingku tetap menggunakannya. Aku tidak bisa memaksa mereka untuk beralih dari WhatsApp ke Signal dengan menjelaskan panjang lebar tentang keamanan privasi internet. Tapi aku sebisanya mengamankan privasi internet Smartphone orang-orang disekitarku, dengan cara yang sama mengubah Smartphone mereka menggunakan Custom ROM meminimalisir pencurian data.

Sumber dan refrensi :

http://gs.statcounter.com/os-market-share/mobile/indonesia

https://m.antaranews.com/berita/802337/menkeu-investor-ingin-miliki-unicorn-indonesia-karena-incar-data-konsumen

https://tirto.id/sri-mulyani-ungkap-alasan-investor-039bakar-uang039-untuk-startup-it-dhKM

https://shadow53.com/android/no-gapps/faq/what-is-microg/